What Our Alumni say:

Elhana Sugiaman

"Back then, Cahaya Bangsa was not a well-known school and I did not know what to expect other than an English-speaking school. However, I discovered that the school had more to offer than English lessons. It offered hard-working teachers who cared and formed personal bonds with the students. They challenged my opinions and let me challenge theirs. It was a privilege to grow in intellectual maturity. I am glad that Cahaya Bangsa taught me to reason well, because that skill is essential for my degree in Oxford. At Cahaya Bangsa, I was accustomed to presenting my arguments on paper and in front of an audience. This is not unlike my daily scholarly dose at university."

 

Hans Marvin Tanuardi | Study in ITB (FMIPA - SNMPTN Track)

hans"Selama saya sekolah di CBCS, saya dapat melatih kemampuan saya dalam berbahasa Inggris. Bukan itu saja, tapi saya dapat belajar bagaimana cara berpikir secara kritis dan klasikal terhadap permasalahan lokal, nasional, maupun dunia dan saya pun belajar untuk mendalami iman saya dengan mendasarinya dengan argumen rasional yang dapat menguatkan iman. Terima kasih CBCS!"

  

What our Parents say:

Aan Tanumihardja ‐ Maria Regina

Orang tua dari Natanael, Joshia, Joel dan Joanna (Natanael adalah lulusan valedictorian CBCS tahun 2016 dan diterima melalui jalur SBMPTN di ITB jurusan Teknik Kimia).

"Awalnya anak saya yang pertama, yang berumur 5 tahun, mengikuti program homeshooling, karena saat itu dia tidak bisa mengikuti sekolah regular dan sedang diterapi supaya bisa kembali kepercayaan dirinya, berani bergaul dan bersosialisasi dengan orang lain. Berkat campur tangan Tuhan, di tahun 2003,saya berkenalan dengan komunitas homeschooling yang akhirnya tumbuh menjadi sekolah CBCS. Saat itu saya bersyukur bahwa ada sekolah dengan guru‐guru yang penuh dedikasi, sangat care, terbuka, dan bekerjasama dengan baik dengan orangtua murid. Apalagi karena memang anak saya waktu itu mempunyai masalah kejiwaan sehingga perlu ada kerjasama yang baik antara orang tua dan guru. Kerohanian dan karakter anak saya terus terjaga selama dia bersekolah di CBCS. Saya juga sangat bersyukur dan berbesar hati melihat perkembangan kejiwaan anak saya setiap tahun, bagaimana dia mulai bisa bergaul dengan teman-temannya,berjalan tegap dan tidak membungkuk, berani bicara dengan orang dewasa dengan saling menatap mata. Hal ini tentunya tidak lepas dari dukungan guru‐guru yang terus memberi kesempatan padanya untuk tumbuh, menariknya keluar dari dunianya, mengajaknya hang‐out untuk sekedar berdiskusi tentang segala hal.Saya juga teringat kebimbangan saya waktu dia di kelas 9. Dia masih menjadi anak yang pendiam di kelas dan jarang berbicara. pertanyaan ini muncul di hati saya. Apakah dia bisa mengikuti program thesis di sekolah ini, yang menuntutnya harus berani berdiri berbicara di depan dan mempertahankan thesisnya...?Perlukah dia saya pindahkan ke sekolah lain yang tidak ada tuntutan seperti itu? Tetapi puji Tuhan, apa yang dulu saya anggap mustahil, ternyata tidak terjadi.Saya melihat dengan bangga waktu dia berdiri di depan menyampaikan pidatonya di saat kelulusan tahun lalu. Sungguh saya berterimakasih pada Tuhan yang sudah membuka jalan, membawa anak saya dididik di CBCS, dimana dia diperlengkapi dengan hal‐hal yang sudah pasti tidak bisa dia dapatkan di sekolah lain."


Rudy‐Suzan

Orang tua dari Viola Hartono (lulusan tahun 2017, berkuliah di ITB jurusan Bisnis), Jeff Hartono dan Shannon Hartono (10)

"Pada tahun 2005, Tuhan membawa kami ke Cahaya Bangsa, pada saat itu tidak terbersit sedikitpun pikiran bahwa CBCS akan berkembang seperti sekarang. CBCS sangat memberkati keluarga kami karena sekolah ini menerapkan pendidikan yang berpusat pada Kristus, hal tersebut selaras dengan apa yang anak‐anak kami pelajari di rumah dan di gereja, sehingga anak‐anak tidak bingung. Anak‐anak kami juga diberkati oleh pengajaran yang semuanya secara konsisten didasarkan pada kebenaran alkitab, juga contoh iman dan karakter Kristus yang ditunjukkan oleh para guru dan staff, sehingga suasana pendidikan sangat mendukung perkembangan anak‐anak, karena para otoritas di CBCS bukan hanya mengajarkan, tapi juga melakukan apa yang mereka ajarkan. Di grammar school, sekolah memberi perhatian khusus pada anak‐anak secara individu, para guru menunjukkan perhatian dan kasih, anak‐anak diajar untuk mandiri, saling menghormati dan diajarkan juga keterampilan dasar yang mereka perlukan untuk hidup di masyarakat. Sejak mereka kecil mereka sudah mengalami bahwa belajar itu menyenangkan. Suasana belajar yang seperti ini sangat menolong untuk mempersiapkan anak sulung kami memasuki upperschool. Di upperschool, suasana sekolah sangat mendukung murid‐murid untuk bereksplorasi dan mereka dapat mengekspresikan diri mereka sebagaimana adanya. CBCS juga memiliki kurikulum yang bisa mengembangkan seorang anak menjadi satu pribadi yang utuh, seimbang dalam hal seni, musik, dan olah raga. Bukan hanya mendidik anak‐anak, sekolah juga secara aktif meperlengkapi para orang tua supaya bisa berfungsi sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam mendidik dan membesarkan anak‐anak untuk kemuliaan nama Tuhan. Secara keseluruhan, CBCS melebihi harapan kami dalam menjadi partner dalam mendidik anak‐anak kami. Kiranya Tuhan terus memberkati CBCS."


Hendra Tanujaya dan Febe Claudia Tanudirja
Orangtua dari Clement Feraldy (Clement Feraldy adalah lulusan CBCS tahun 2015, diterima di ITB di jurusan Perminyakan dan Pertambangan, juga diterima di Southampton University jurusan Engineering Automotive).

“Puji syukur kepada Bapa di surga, karena kami tidak salah langkah untuk memindahkan Clement Feraldy ke CBCS di kelas 3. Meskipun saat itu CBCS belum mempunyai gedung dan fasilitas yg mumpuni seperti sekarang, tetapi Clement bertumbuh dan berkembang secara seimbang antara pendidikan dan attitude. Para karyawan, pengajar, orangtua, dan murid saling bekerjasama dalam doa, daya, dan dana sehingga jadilah CBCS yang sekarang. Mutu pelajaran yang berkualitas tinggi dibarengi dengan praktek keimanan dan pelayanan, merupakan suatu kombinasi yang sangat bagus. Sepuluh tahun sudah Clement hidup di lingkungan positif CBCS. Aura positif tersebut telah membentuk Clement dan kami, dan juga akan terus menyebar untuk menggarami lingkungan di mana kami tinggal. Terima kasih Tuhan Yesus untuk penyertaanmu kepada CBCS, mohon supaya CBCS tetap di jalanMU.”


Widjaja Tjandra dan Melinda Sutejo
Orangtua dari Ivan Tjandra dan Owen Tjandra
(Ivan Tjandra adalah lulusan tahun 2014, diterima tanpa tes di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Fakultas Teknik Sipil dan kuliah di Univesity of New South Wales, Sydney)

“Ketika 7 tahun yang lalu kami merencanakan memindahkan anak sulung kami ke Cahaya Bangsa Classical School (CBCS) yang terbersit dalam benak kami adalah sekolah Kristen yang baik dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, sesederhana itu saja pemikiran kami. Ternyata kami menerima lebih dari hal itu, CBCS bukan sekedar mengajarkan nilai‐nilai kekristenan dalam pelajaran agama, tapi juga menerapkannya dalam semua aspek, seperti para guru yang mencintai siswa, komunikasi yang baik antara guru dan orangtua, siswa ditekankan untuk menghormati Tuhan, guru guru dan teman‐teman. Nilai‐nilai kekristenan juga diterapkan dalam ilmu pelajaran lainnya, sehingga menjadi terpadu. Fokus yang jelas bahwa Tuhan Yesus
adalah pusat dari CBCS, untuk itu kami sangat bersyukur. Hal lain yang kami rasakan adalah komunikasi yang terbuka antara orangtua dan pihak sekolah, baik guru dan kepala sekolah dalam suasana saling menghormati dan saling percaya demi kebaikan dan kemajuan pendidikan anak. Indah bukan?
Kami tidak ragu memasukkan anak kami yang bungsu untuk bersekolah di CBCS, dengan suasana kekeluargaan yang baik mendukung perkembangan karakter anak menjadi pribadi yang memuliakan Tuhan. Kami bersyukur kepada Tuhan untuk berkat‐Nya atas Cahaya Bangsa Classical School.”

 

Ibu Susyana Winardy
Parents of Michael Jehan
Class of 2018,Universitas Indonesia

Cahaya Bangsa (CBCS) has a unique value and teaching method. The student will be drilled on the learning process instead of only focus on the end result. Its curriculum and text book are very comprehensive that provide the student a strong fundamental for their future study and life. The students are encouraged to speak up their opinion and to properly communicate/present their ideas.

MJ joined Cahaya Bangsa as 1st grader in 2006, The School was relatively new with only several classrooms. Ms Agnes, as the Principal told us that The School would take care student’s character instead of only focus in academic. We were convinced and we made the choice among other well-established schools.

MJ was an energetic and out of the box thinker, but being a kinesthetics kid sometimes was not easy. MJ was struggling to keep up with the learning process at school. Nevertheless the school and teacher were willing to see MJ’s potential and intensely communicated with us on how to help MJ figured up the obstacle and improved.

MJ has passionate to learn science but he was not sure where he would continue his study, either at National Public Universities, Overseas or Local Private Universities. At some point, we were overwhelmed which study that Cahaya Bangsa can facilitate MJ better. Considering some differences with local curriculum and unfamiliarity to read exam in Bahasa, we think that MJ has a very small chance to be accepted by National Public School.

With a strong fundamental knowledge provided by Cahaya Bangsa and good support from the teacher, MJ was accepted in UI, UGM, ITS, ITB-International and several well known local universities. After thorough consideration, MJ is now taking a Dual Degree Program of Mechanical Engineering at Universitas Indonesia. As parents, we have handed over the new book to MJ and it’s time for MJ to write his own story.